Jumat, 27 Maret 2009

Panen padi gogo di sukamanah

Liburan nyepi kemarin, kuhabiskan waktu seharian di desa sukamanah tigaraksa tangerang. Setelah empat bulan lamanya padi padi Gogo yang di tanam pak haji sulaeman di kebunku, kemarin kami panen. Dari petakan petakan kebun yang sudah di tanam pohon alpokat dan lengkeng, di padukan dengan tanaman padi gogo. Hasil panen yang lumayan untuk kebutuhan hidup pak haji sulaeman yang aku aku percaya untuk menggarap kebun. Tanah gembur itu kini kembali dipenuhi oleh rumput dan sisa sisa jerami, tampak berantakan . Pohon pohon Akasia dan pohon jati yang ada di sebagian petakan sudah mulai membesar. Terbayang di angan, nanti kebun ini akan berubah dengan hijaunya daun daun pohon buah buahan dan pohon jati, sungguh pemandangan yang indah dan membanggakan dapat berpartisipasi menghijaukan bumi yang sudah tua dan keriput.

Suatu saat mungkin aku akan tinggal di desa ini, menyingkir dari hiruk pikuk kesombongan kota. Akan kupersiapkan istana tempatku sekeluarga istirahat di akhir minggu. Dikelilingi padi padi gogo dan pohon buah buahan nan hijau dan kambing2 yang mengembek minta rumput atau minta kawin.
Menikmati nasi hangat dari beras beras segar tanpa pengawet, makan sayur sayuran organik di kombinasikan dengan ikan asin sepat buatan istri plus sambal pedas dari cabe-cabe di pekarangan.

Panen padi gogo pertama dari kebun, menambah semangat untuk terus memberdayakan potensi pertanian dan perkebunan di desa sukamanah. Sebuah khayalan yang terus kucoba untuk di kerjakan.

Senin, 23 Februari 2009

Perjalanan pertama ke Majalengka

21 pebruari lalu, bersama teman survei ke wilayah majalengka. Perjalanan malam, berangkat dari tangerang jam 11 malam melewati jalur tol cikampek-cipularang-cileunyi, lanjut ke arah jatinangor-cadas pangeran naik turun kiri kanan, jalan berliku-liku. Jam 5.30 kami sudah memasuki kota majalengka, terus ke arah Salagedang dan perhentian terakhir di desa Rajagaluh.

Ini kali pertama kami berkenalan dengan wilayah majalengka. Berkenalan dengan pak maman, yang kami minta untuk menemani memasuki desa desa tempat budidaya tanaman buah. Ada sentra pembibitan tanaman mangga, durian, lengkeng, pete, mahoni, jati, melinjo, jambu dlsb.

Bertemu dengan pak Juhad. Beliau ini petani lengkeng yang spesialis memperbanyak bibit bibit lengkeng dengan tehnik tempel susu. Dalam waktu singkat kami banyak belajar dari pak Juhad segala sesuatu tentang lengkeng. Dan kami langsung memutuskan untuk membeli 500 bibit lengkeng yang tersedia dari pak Juhad.

Perjalanan kami lanjutkan menuju desa Gunung Kuning. Jalan sempit menanjak dengan sudut kecuraman yang"mengerikan" dapat di lalui dengan selamat. Singkat cerita sampai lah di kebun petani durian. Puluhan ribu bibit durian monthong dan sitokong tersedia di wilayah ini. keahlian dan kerja keras petani patut di acungi jempol, Patut di tiru.
"Pohon durian sudah berbuah, sudah ada yang nawar 2jt tapi tidak diberikan" celoteh sang petani penuh rasa bangga.

Menyaksikan ketekunan dan kegigihan petani di wilayah ini menimbulkan semangat optimis ditengah tengah kegelisahan dari ancaman gersangnya kebun kami, gersangnya tanah tanah akibat pembangunan perumahan dan pabrik pabrik.
Dari puncak desa gunung kuning, saya melihat jakarta dan sekitarnya, dari majalengka saya melihat indonesia hijau yang dapat mengobati kekhawatiran akan Global warming.

Karena keterbatasan waktu, tepat jam 2 siang kami pulang menuju Tangerang dengan membawa semangat optimisme itu dengan hati berseri seri sampai lupa kalau kami belum mandi dan tidak gosok gigi seharian dan belum tidur pula. Mulut terkunci karena lengket dengan gigi. Tak apa, sebongkah harapan kami bawa dari Majalengka.

Selasa, 17 Februari 2009

dihadapanmu

Pagi yang indah, datang menyambut gairah
Hawa dingin masih menyelimuti kulit
Panggilan adzan membangunkan  jiwa raga
Di hadapanMu, tak bisa lagi berkelit

Penyerahan diri, takluk akan keAgunganmu
Pengakuan atas kekuasaan Mu

Jumat, 30 Januari 2009

Temu Wicara Petani

Kali ini saya mau cerita (nostalgia) acara TVRI jaman dulu, pertengahan tahun delapan puluhan, waktu sekolah masih pake celana pendek warna biru. Dari TV National hitam putih kebanggaan Ayah. Setelah shalat isya biasanya ayah saya, selalu mengajak nonton acara temu wicara petani dengan Pak Harto, presiden republik ini waktu itu.

Saya ingat betul, Pak Harto selalu memotivasi para petani untuk selalu bekerja dengan giat, tekun dan sabar sehingga mendapat kemudahan rejeki dari hasil panen yang melimpah. Jaman itu sedang terjadi eforia swasembada beras 1984.
Yang paling berkesan ketika Pak Harto meng-ilustrasikan Budidaya kelapa hybrida bagi setiap keluarga petani, yang dari hasil panen kelapa tersebut dapat membayar pajak bumi dan bangunan, sehingga pemerintah pun dapat melanjutkan pembangunan negara dari pajak yang di bayarkan rakyat sesuai dengan garis garis besar daripada haluan negara( GBHN ).

Saat ini saya lagi keranjingan menanam pohon, terutama tanaman buah, tidak terlepas dari logika yang dulu pernah saya dengar dari pak harto langsung( TVRI ). Hitung hitungan yang sederhana, tidak muluk muluk. Buah yang di panen nantinya dapat menutupi Pajak Bumi dan Bangunan plus dapat memberikan asupan vitamin untuk saya dan keluarga. Bahkan kalau panen buah buahannya  berlimpah bisa jajan bersama anak istri.

Kini acara temu wicara pemimpin negara dengan petani sudah langka, mungkin karena saya sudah jarang nonton TVRI, jadi saya tidak tahu.
Asyik juga punya presiden yang bisa dekat dengan rakyatnya....wuihhh ngarep benerrr.

Terus maksudnya apa nulis beginian? Suerrrr gak punya maksud terselubung, cuma mau ngajak ente ente semua , yuk sing sing kan lengan, tenaga dan uang untuk ikut menanam pohon.
Dan jangan lupa pilih tanaman kesukaan yang bisa menghasilkan rupiah, seperti rambutan, mangga, jambu atau alpukat. Mulai sekarang cobalah dan rasakan nikmatnya berkebun.

Kamis, 29 Januari 2009

Pohon Kumurui

Tanaman Kumurui adalah salah satu jenis tanaman yang di manfaatkan untuk bumbu masak oleh kalangan ibu ibu yang berasal dari aceh. Biasanya di gunakan untuk memasak daging atau ikan. Bagian yang di gunakan untuk bumbu masak hanya daunnya saja, sama seperti daun jeruk purut untuk memasak daging. aroma nya wangi, menurut bunda tetangga sebelah rumah yang berasal dari NAD, daun kumurui dapat membuat masakan menjadi empuk dan dapat menghilangkan aroma hanyir. Buah dari pohon kumurui ini bergerombol, sebesar biji kopi dan kalau sudah masak berwarna ungu gelap, rasanya manis bercampur pahit ber-aroma mint( tidak di rekomendasikan untuk di makan, khawatir nanti mabok ).

Saya saat ini sedang membudidayakan pohon ini, baru tahapan penyemaian. Sudah pada tumbuh, kira kira 4 minggu lagi siap di pindahkan ke polybag. Tanaman ini di jabotabek sangat sulit di temukan, kalau di aceh sana bisa jadi masih bejibun.
Ibu ibu yang terbiasa masak daging atau ikan dan membutuhkan tanaman ini, hubungi saya saja....heheheh.

Ada dua jenis pohon kumurui, Kumurui hijau dan kumurui merah. Konon kumurui merah lebih berkhasiat. Gak tau khasiatnya seperti apa, bagi yang kepengen tahu khasiatnya, experiment saja sendiri ya. yang jelas kalo di gunakan untuk bumbu masak, dijamin masakan anda tidak bau dan bisa menggoda tetangga untuk mencicipi.
selamat berburu pohon kumurui.

Selamat Datang Hujan

Memasuki awal bulan pebruari ini, hujan sudah mulai sering menyapa setiap pagi atau sore hari. Tanah yang kering kerontang sudah mulai di tumbuhi rumput rumput liar yang hijau dan segar. Sawah sawah yang tanahnya terpecah belah kini sudah di genangi air, dan kerbau pun tak mau ketinggalan, membuat kubangan dan bergembira ria.

Sayapun bersyukur, Hujan telah membasahi kebun alpukat dan menyuburkan semua tanaman yang ada di kebun. Namun tetap saja hujan membuat pusing juga, soalnya rumput liar semakin besar dan subur.

Bagaimanapun, hujan adalah berkah kehidupan di bumi. jadi jangan sia siakan air hujan yang turun dan berubah menjadi bencana hanya karena kelalaian kita.

Karena hujan, saya tahu kalau ada genteng rumah yang sudah rapuh dan pecah. Karena hujan saya tahu kalau ada banyak sampah di got depan rumah. Selamat datang hujan, basahilah bumi ini sesukamu, dan jangan pernah mau kalau di suruh pindah oleh si pawang hujan.

Rabu, 21 Januari 2009

Kios bunga segitiga

Sudah 3hari ini saya bangun kios bunga di samping rumah, masih ada 20m2 tanah kosong berbentuk segitiga. dengan bahan bahan bangunan eks lapak bunga dasana indah. Awalnya untuk tempat penampungan sementara tanaman hias sebelum di pindahkan ke tigaraksa.
Di pikir pikir lagi, kenapa gak sekalian aja jualan di rumah, terutama hari sabtu minggu. gak pikir panjang, saya suruh tukang buat meja2 tanaman. Sabtu depan tampaknya sudah selesai dan langsung bisa jualan.
Jangan heran kalo kawan kawan berkunjung kerumah, 270 derajat rumah saya di kelilingi tanaman. Tentu saya berharap, semua orang yang memandang akan merasa senang karena dapat menikmati keindahan bunga bunga adenium dan keunikan dari pachypodium. Apalagi aglaonema si ratu daun dan anthurium si raja daun.

Senang rasanya bisa menjadi inspirasi bagi tetangga untuk ikut berpartisipasi menghijaukan halaman rumah mereka.
Ada tetangga yang berpesan apa gak takut hilang tanaman tanamannya? saya cuma senyum senyum saja. Dalam hati saya, sudahlah biarkan saja kalo memang si maling suka. toh tidak mengurangi rizki yang di berikan Allah kepada saya dan keluarga.

Dan  ada komentar komentar yang menggelitik, Belum tiga bulan bangun sekarang ngebangun lagi. hebat amat......
Jangan dikira saya bangun kios ini keluar duit gede....gak lah. Batako, kayu, bambu, pasir semuanya saya bawa dari lapak bonang. paling beli paku, semen dan bayar tukang. Total jendral paling habis 1juta dan sudah bisa usaha......hahahahahaah cari duit cari duit kata tukul.

Nah kesempatan.....saya mohon doa restu dari kawan kawan doain biar lancar jaya kios bunga segitiga saya. Laris manis tanjung kimpul, bunga laris duit ngumpul.